Setiap anak yang penasaran berhak mencoba.
Rangkai lahir dari pertanyaan sederhana: bagaimana caranya supaya siapa pun di Indonesia, di kota maupun di desa, bisa belajar membuat lampu berkedip, sensor yang membaca suhu, atau robot kecil, tanpa harus punya laboratorium lebih dulu?
Berawal dari keinginan, lalu dirangkai sedikit demi sedikit
Kami melihat banyak anak dan guru yang ingin belajar elektronika dan pemrograman, tetapi terhenti sebelum sempat mencoba. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena jalannya terlalu mahal, terlalu menakutkan, atau terlalu asing.
Dari situ muncul keinginan membuat breadboard yang bisa dibuka di browser mana saja: berbahasa Indonesia, punya level dari anak sampai mahir, dan tidak marah ketika kita salah. Kami mulai dari satu LED dan satu tombol, lalu menambah komponen, editor blok, kelas, tugas, dan kuis, satu per satu, sambil terus bertanya: apakah ini membantu orang belajar?
Nama Rangkai kami pilih karena tiga hal: merangkai komponen menjadi alat, merangkai ide menjadi karya, dan merangkai anak-anak hari ini menjadi pembuat teknologi esok hari.
Hambatan yang ingin kami hapus
- 1Satu set komponen dan papan mikrokontroler tidak murah, dan tidak semua sekolah punya laboratorium.
- 2Komponen yang terbakar karena salah pasang membuat banyak orang takut mencoba lagi.
- 3Simulator yang bagus umumnya berbahasa Inggris dan dibuat untuk orang dewasa yang sudah paham dasarnya.
- 4Guru harus memeriksa puluhan rangkaian satu per satu, sehingga waktu untuk membimbing siswa berkurang.
Enam hal yang tidak kami tawar
Salah itu bagian dari belajar
Di Rangkai, LED boleh terbakar dan kabel boleh tertukar. Yang rusak hanya gambar, dan pesannya menjelaskan apa yang terjadi.
Dengan bahasa sendiri
Pesan, petunjuk, dan penjelasan komponen ditulis dalam bahasa Indonesia yang sederhana, dari level anak sampai level lanjut.
Untuk semua
Siswa belajar tanpa biaya. Cukup browser dan internet, tanpa memasang aplikasi apa pun.
Menjaga anak-anak
Tanpa iklan dan pelacak. Siswa cukup memakai nama panggilan, dan proyek selalu privat sampai dibagikan.
Guru sebagai penggerak
Tugas, penilaian otomatis, kuis, dan balapan rangkaian dibuat supaya guru punya lebih banyak waktu untuk membimbing.
Berdiri di atas sumber terbuka
Rangkai memakai perangkat lunak sumber terbuka dari komunitas dunia, dan kami mencantumkan lisensinya dengan terbuka.
Dirangkai langkah demi langkah
Rangkai tidak dibuat sekaligus. Setiap fitur dimulai dari satu pertanyaan: hambatan apa yang masih membuat orang berhenti belajar? Lalu kami rancang jawabannya, kami coba sendiri seperti seorang siswa dan seorang guru, dan kami perbaiki sampai terasa mudah.
Rangkai dirancang dan diuji oleh tim kami, dan dikembangkan dengan bantuan Claude Code, asisten pemrograman AI dari Anthropic. Kecerdasan artifisial membantu kami menulis dan memeriksa kode lebih cepat; keputusan tentang apa yang dibuat, untuk siapa, dan apakah sudah layak dipakai tetap ada di tangan manusia. Kami ingin anak-anak melihat hal yang sama: AI adalah alat untuk mencipta, bukan pengganti rasa ingin tahu.
Rangkai juga berdiri di atas karya komunitas sumber terbuka dunia. Daftar lengkapnya ada di halaman lisensi sumber terbuka.
- 1
Satu LED di browser
Langkah pertama: breadboard, kabel, LED, dan papan Arduino Uno yang benar-benar menjalankan program di browser, tanpa memasang apa pun.
- 2
Blok dan level
Supaya anak-anak bisa ikut, kami menambah editor blok dan empat level, dari Pemula yang cukup menyusun blok sampai Lanjut dengan banyak berkas kode.
- 3
Salah yang mengajari
Rangkaian diperiksa saat berjalan. LED tanpa resistor tampak terbakar, kaki yang tertukar diberi tahu, dan setiap komponen punya penjelasan serta keterangan kakinya.
- 4
Lebih banyak papan dan komponen
Arduino Nano dan Mega, sensor, layar, motor, hingga kartu microSD, supaya proyek bisa tumbuh mengikuti rasa penasaran.
- 5
Kelas yang hidup
Kode kelas, tugas puzzle, penilaian otomatis, kuis langsung, balapan rangkaian, poin, dan lencana, supaya guru terbantu dan siswa makin semangat.
Untuk bangsa dan negara
Indonesia akan dibangun oleh generasi yang tidak hanya memakai teknologi, tetapi juga mampu membuatnya. Kami ingin Rangkai menjadi salah satu anak tangga menuju ke sana: tempat pertama seorang anak merasakan bahwa ia bisa membuat sesuatu bekerja dengan tangan dan pikirannya sendiri.
- MerataBelajar praktik elektronika tidak lagi bergantung pada lengkapnya laboratorium sekolah.
- Mendukung sekolahMembantu guru mengajarkan koding, elektronika, dan kecerdasan artifisial dengan alat yang siap pakai.
- Mencetak pembuatDari LED pertama hari ini, lahir insinyur, peneliti, dan wirausahawan teknologi Indonesia esok hari.
Mari merangkai bersama
Rangkai masih terus tumbuh. Saran dari siswa, guru, dan orang tua sangat berarti bagi kami untuk membuatnya lebih baik.